![]() |
| Aziz Amin | Wong Embuh - 0858-6767-9796 |
Refleksi Ramadan tentang belajar tidak mudah menghakimi orang lain, memahami kehidupan dengan hati yang lebih tenang, dan menjalani hidup dengan kesadaran sederhana sebagai wong embuh.
Ramadan sering menghadirkan ruang bagi manusia untuk melihat hidup dengan cara yang lebih jernih. Dalam kesibukan hari-hari biasa, kita sering berjalan terlalu cepat. Kita menilai orang lain terlalu cepat, menyimpulkan keadaan terlalu cepat, bahkan memutuskan sesuatu sebelum benar-benar memahaminya.
Pada hari keenam Ramadan Healing 1447 H ini, saya mulai menyadari satu kebiasaan manusia yang sering terjadi tanpa kita sadari: terlalu cepat menghakimi.
Kita sering melihat seseorang dari satu peristiwa kecil, lalu langsung memberi label. Seseorang dianggap buruk karena satu kesalahan. Seseorang dinilai tidak baik hanya karena satu sikap yang tidak kita sukai.
Padahal hidup manusia tidak pernah sesederhana itu.
Setiap orang memiliki cerita yang tidak selalu kita ketahui. Ada pengalaman hidup yang membentuk cara berpikirnya. Ada luka yang mungkin tidak terlihat oleh orang lain. Ada perjuangan yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun.
Namun sering kali kita menilai orang lain hanya dari apa yang tampak di permukaan.
Di sinilah saya mulai memahami satu hal dari sudut pandang Embuhisme.
Menjadi seorang wong embuh berarti memiliki kerendahan hati untuk menyadari bahwa kita tidak selalu tahu cerita lengkap tentang kehidupan orang lain. Kita mungkin melihat satu peristiwa, tetapi tidak mengetahui latar belakang yang sebenarnya terjadi.
Ketika seseorang mulai memiliki kesadaran itu, ia tidak lagi mudah memberi penilaian. Ia menjadi lebih berhati-hati dalam menyimpulkan sesuatu.
Bukan karena ia tidak memiliki pendapat, tetapi karena ia sadar bahwa hidup manusia terlalu kompleks untuk dipahami hanya dari satu sudut pandang.
Ramadan seperti mengajarkan sikap itu secara perlahan. Ketika kita berpuasa, kita belajar menahan banyak hal. Tidak hanya menahan makan dan minum, tetapi juga menahan emosi, menahan kata-kata, dan menahan reaksi yang sering muncul secara spontan.
Di dalam proses menahan itulah kita mulai belajar memahami diri sendiri.
Bahwa sering kali yang membuat hubungan manusia menjadi rumit adalah penilaian yang terlalu cepat.
Ketika seseorang belajar memperlambat penilaiannya, ia mulai memiliki ruang untuk melihat kehidupan dengan lebih luas. Ia mulai memahami bahwa manusia tidak selalu hitam atau putih.
Ada banyak warna di antara keduanya.
Pada hari keenam Ramadan ini, saya belajar satu hal sederhana namun sangat berarti: tidak semua hal harus segera kita simpulkan.
Kadang kita hanya perlu melihat lebih jauh. Mendengar lebih banyak. Memahami lebih dalam sebelum memberi penilaian.
Jika suatu saat kita merasa kesal kepada seseorang atau kecewa pada sikap orang lain, mungkin tidak ada salahnya untuk berhenti sejenak dan berkata dalam hati:
“Embuh… mungkin aku belum tahu cerita sebenarnya.”
Kalimat sederhana itu sering membuat hati menjadi lebih tenang.
Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling cepat menilai orang lain.
Tetapi tentang siapa yang paling mampu memahami manusia dengan hati yang lebih lapang.
Dan mungkin itulah salah satu pelajaran kecil yang bisa kita temukan di perjalanan Ramadan ini.
Belajar menjadi manusia yang lebih tenang, lebih bijak, dan tidak terlalu cepat menghakimi kehidupan.





0 Komentar