![]() |
| Aziz Amin | Wong Embuh - 0858-6767-9796 |
Refleksi Ramadan tentang belajar berdamai dengan pikiran sendiri, mengelola kegelisahan batin, dan menemukan ketenangan hidup dengan kesadaran sederhana sebagai wong embuh.
Ramadan sering menjadi waktu yang istimewa untuk memperhatikan apa yang terjadi di dalam diri kita. Ketika aktivitas sedikit melambat dan suasana hati lebih tenang, kita mulai menyadari bahwa kehidupan manusia tidak hanya dipenuhi oleh peristiwa di luar dirinya, tetapi juga oleh apa yang terjadi di dalam pikirannya sendiri.
Pada hari kesepuluh Ramadan Healing 1447 H ini, saya mulai memahami satu hal yang cukup sederhana tetapi sering membuat manusia merasa lelah: pikiran yang terlalu ramai.
Banyak orang merasa hidupnya penuh tekanan karena masalah yang datang dari luar. Namun jika diperhatikan dengan lebih jujur, sering kali kelelahan itu justru muncul dari pikiran kita sendiri. Kita memikirkan sesuatu terlalu lama, memikirkan kemungkinan yang belum tentu terjadi, atau mengulang kembali kejadian yang sebenarnya sudah berlalu.
Pikiran manusia memang luar biasa. Ia bisa mengingat masa lalu dengan sangat detail, bahkan hal-hal kecil yang sudah lama terjadi. Ia juga mampu membayangkan masa depan dengan berbagai kemungkinan, baik yang menyenangkan maupun yang menakutkan.
Namun di sisi lain, pikiran yang tidak dikelola dengan baik juga bisa membuat hati terasa berat.
Kita mengingat kesalahan lama dan merasa menyesal terlalu lama.
Kita memikirkan masa depan dan merasa khawatir berlebihan.
Kita menilai diri sendiri terlalu keras karena sesuatu yang sebenarnya masih bisa diperbaiki.
Di sinilah saya mulai memahami satu hal dari sudut pandang Embuhisme.
Menjadi seorang wong embuh berarti menyadari bahwa tidak semua hal di dalam pikiran harus dipercaya sepenuhnya. Tidak semua kekhawatiran adalah kenyataan. Tidak semua penilaian tentang diri kita benar adanya.
Kadang pikiran hanya sedang lelah.
Kadang pikiran hanya sedang terlalu sibuk memikirkan banyak hal sekaligus.
Ramadan seperti memberi kesempatan kepada manusia untuk menenangkan pikiran itu. Ketika kita berpuasa, kita belajar memperlambat diri. Kita belajar menahan reaksi, menahan emosi, dan memberi ruang bagi hati untuk kembali tenang.
Di dalam ketenangan itulah kita mulai menyadari bahwa hidup tidak selalu harus dipikirkan secara berlebihan.
Ada hal-hal yang cukup kita jalani saja.
Ada peristiwa yang cukup kita terima.
Ada kekhawatiran yang sebenarnya tidak perlu terus kita bawa.
Pada hari kesepuluh Ramadan ini, saya belajar satu hal sederhana: tidak semua pikiran harus kita ikuti.
Kadang kita hanya perlu melihat pikiran itu datang, lalu membiarkannya pergi.
Seperti awan yang lewat di langit.
Jika suatu saat pikiran terasa terlalu ramai dan hati terasa gelisah, mungkin tidak ada salahnya untuk berhenti sejenak, menarik napas, dan berkata pelan kepada diri sendiri:
“Embuh… mungkin tidak semua harus kupikirkan hari ini.”
Kalimat sederhana itu sering membuat hati menjadi lebih ringan.
Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang memiliki pikiran yang selalu benar.
Tetapi tentang memiliki hati yang mampu kembali tenang, meskipun pikiran kadang masih berisik.
Dan mungkin di situlah salah satu pelajaran kecil dari perjalanan Ramadan ini: belajar berdamai dengan pikiran sendiri, agar hati tetap memiliki ruang untuk merasa damai.





0 Komentar