Advertisement

Main Ad

Belajar Menerima Diri Sendiri Apa Adanya

Aziz Amin | Wong Embuh - 0858-6767-9796

Refleksi Ramadan tentang belajar menerima diri sendiri, berdamai dengan kesalahan, dan menjalani hidup dengan lebih tenang sebagai seorang wong embuh.

Ramadan sering menghadirkan suasana yang berbeda dalam kehidupan kita. Ritme hidup terasa sedikit melambat. Waktu seperti memberi ruang bagi hati untuk berbicara lebih jujur kepada diri sendiri. Dalam suasana yang lebih hening itulah, kita sering mulai melihat diri kita dengan cara yang berbeda.

Pada hari ketiga Ramadan Healing 1447 H ini, saya mulai menyadari satu hal sederhana yang sering terlewat dalam kehidupan sehari-hari: menerima diri sendiri apa adanya.

Banyak orang menjalani hidup dengan perasaan tidak pernah cukup. Kita melihat kehidupan orang lain yang tampak lebih berhasil, lebih bahagia, atau lebih sempurna. Tanpa sadar kita mulai membandingkan diri kita dengan mereka.

Dari situlah sering muncul perasaan tidak puas pada diri sendiri.

Kita merasa hidup kita kurang berhasil.
Kita merasa diri kita belum cukup baik.
Bahkan kadang kita merasa tertinggal dari orang lain.

Padahal setiap manusia memiliki jalan hidup yang berbeda.

Ada orang yang berhasil lebih cepat.
Ada yang harus melewati banyak kegagalan lebih dahulu.
Ada pula yang harus belajar dari kesalahan yang tidak sedikit.

Namun sering kali kita terlalu keras kepada diri sendiri. Kita menuntut diri untuk selalu benar, selalu berhasil, dan selalu terlihat baik di mata orang lain. Ketika kenyataan tidak berjalan sesuai harapan, kita mudah merasa kecewa pada diri sendiri.

Di titik seperti itulah saya mulai memahami satu hal dari sudut pandang Embuhisme.

Bahwa manusia tidak harus selalu menjadi sempurna.

Kita ini hanya manusia biasa. Kita bisa salah, bisa gagal, bahkan bisa membuat keputusan yang keliru dalam hidup. Itu bukan berarti hidup kita selesai. Justru sering kali dari kesalahan itulah kita belajar memahami diri sendiri dengan lebih dalam.

Menjadi seorang wong embuh bukan berarti menyerah pada keadaan. Wong embuh adalah orang yang cukup jujur untuk mengakui bahwa ia masih banyak belajar dalam hidup. Ia tidak berpura-pura menjadi orang yang paling benar.

Ia hanya berusaha menjadi lebih baik dari hari ke hari.

Ramadan seperti mengingatkan kita bahwa perubahan tidak terjadi secara instan. Tidak ada manusia yang langsung menjadi sempurna hanya karena satu niat baik. Setiap perubahan selalu membutuhkan proses.

Sedikit demi sedikit.

Hari demi hari.

Pada hari ketiga Ramadan ini, saya mencoba melihat diri sendiri dengan lebih lembut. Bukan untuk membenarkan kesalahan yang pernah dilakukan, tetapi untuk memahami bahwa setiap manusia sedang berjalan dalam prosesnya masing-masing.

Ada luka yang masih perlu disembuhkan.
Ada kebiasaan yang masih perlu diperbaiki.
Ada hati yang masih perlu ditenangkan.

Semua itu membutuhkan waktu.

Ketika seseorang mulai menerima dirinya sendiri, ia tidak lagi terlalu sibuk membandingkan hidupnya dengan orang lain. Ia mulai fokus memperbaiki dirinya sendiri, bukan terus menyalahkan dirinya sendiri.

Barangkali di situlah salah satu bentuk penyembuhan yang sebenarnya.

Bukan sekadar memperbaiki hidup, tetapi belajar berdamai dengan diri sendiri.

Pada akhirnya, perjalanan Ramadan bukan tentang menjadi manusia yang paling sempurna. Ramadan adalah perjalanan untuk menjadi manusia yang lebih jujur kepada dirinya sendiri.

Mengakui kelemahan.
Menyadari kesalahan.
Lalu perlahan memperbaikinya.

Dan jika suatu saat kita masih merasa bingung memahami diri sendiri, mungkin tidak apa-apa untuk berkata pelan kepada diri sendiri:

“Embuh… yang penting terus belajar menjadi lebih baik.”

Karena hidup bukan tentang siapa yang paling sempurna, tetapi tentang siapa yang terus berusaha memperbaiki dirinya, meskipun pelan-pelan.



Posting Komentar

0 Komentar